Setelah Ajarkan Cara Mengolah TOGA menjadi Produk Pangan, FFUI Edukasi Warga Desa di Bogor tentang Izin Edar dan Sertifikasi Halal

Setelah Ajarkan Cara Mengolah TOGA menjadi Produk Pangan, FFUI Edukasi Warga Desa di Bogor tentang Izin Edar dan Sertifikasi Halal

By On Monday, November 06 th, 2023 · no Comments · In

Desa Sasakpanjang adalah sebuah desa di Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor yang merupakan desa binaan Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FFUI) sejak tahun 2021. Melalui diskusi langsung dengan masyarakat dan berkerja sama dengan Human Initiative, FFUI dapat mengetahui beberapa permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat desa dan mencarikan solusinya. Beberapa program pengabdian masyarakat telah dilaksanakan di Desa tersebut, mulai dari vaksinasi covid-19 gratis, penyuluhan kesehatan, hingga pemanfaatan dan pengolahan hasil budidaya Tanaman Obat Keluarga  (TOGA).

Setelah program ‘Edukasi dan Budidaya Tanaman Obat Keluarga (TOGA): Stevia, Hanjeli, dan Rosela’ yang dilaksanakan pada bulan Juli 2023 lalu, kini FFUI melangsungkan pengmas lanjutan, yaitu ‘Edukasi Izin Edar dan Sertifikasi Halal pada Produk Pangan/Minuman Hasil Olahan Rumah Tangga’ pada hari Sabtu, 4 November 2023, di Aula Desa Sasakapanjang, Kec. Tajurhalang, Bogor. Setelah warga diajarkan membuat olahan produk pangan herbal yang memiliki daya jual, FFUI memberikan penyuluhan untuk mendapatkan izin edar dan sertifikasi halal produk pangan atau minuman hasil olahan rumah tangga dan UMKM di Desa Sasakpanjang untuk meningkatkan pemasaran dan nilai jual produk tersebut.

FFUI menghadirkan dua orang narasumber, yaitu apt. Ayusya Dian Paramita, S.Farm dari Direktorat Pemberdayaan Masyarakat dan Pelaku Usaha Pangan Olahan BPOM; serta apt. Ratika Rahmasari, M.Pharm.Sc, Ph.D., Dosen Fakultas Farmasi UI yang juga merupakan perwakilan dari UI Halal Center (UIHC). Materi pertama disampaikan oleh apt. Ayusya dengan judul “Kemudahan Berusaha: Pendaftaran Produk Pangan Olahan”. Ia menyampaikan jenis pangan yang diedarkan di Indonesia yang diperdagangkan dalam kemasan berlabel terbagi dua, yaitu pangan segar dan pangan olahan. “Pangan segar antara lain pangan segar asal tumbuhan (PSAT), pangan segar asal hewan (PSAH), dan pangan segar asal ikan (PSAI). PSAT dan PSAH didaftarkan ke Kementerian Pertanian RI sedangkan untuk PSAI, didaftarkan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. Pangan Olahan, salah satunya adalah pangan industri rumah tangga diberikan Izin Produksi Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT). Contoh pangan olahan yang mendapatkan Izin Produksi SPP-IRT antara lain hasil olahan daging kering seperti abon sapi dan dendeng, hasil olahan perikanan seperti abon ikan dan keripik ikan, kopi dan teh kering seperti kopi bubuk dan serbuk, dan lain sebagainya. Adapun pangan olahan yang tidak wajib memiliki izin edar BPOM dan Izin Produksi SPP-IRT antara lain pangan yang masa simpannya kurang dari 7 hari, diimpor dalam jumlah kecil, digunakan lebih lanjut sebagai bahan baku, pangan olahan dalam jumlah besar dan tidak dijual secara langsung kepada konsumen akhir, diolah dan dikemas di hadapan pembeli, serta pangan siap saji”, ujarnya. Untuk perizinan SPP-IRT dapat dilakukan secara online dengan mengakses aplikasi SPP-IRT di sppirt.pom.go.id.

Pemaparan materi selanjutnya oleh apt. Ratika Rahmasari, M.Pharm.Sc. Ph.D mengenai sertifikasi produk halal. Pemaparan didahului dengan definisi halal dan haram menurut Quran-Sunnah (ajaran islam), karena mayoritas penduduk desa beragama islam. Makanan haram antara lain daging babi, bangkai, darah, hewan yang mati dengan caranya (jenis bangkai), daging anjing, tikus, kalajengking, burung gagak, rajawali, ular, binatang buas, anggota tubuh manusia, kotoran (benda najis), makanan yang memabukkan dan makanan yang merusak diri. Materi dilanjutkan dengan sertifikasi halal yaitu pengakuan kehalalan suatu Produk yang dikeluarkan oleh BPJPH berdasarkan fatwa halal tertulis yang dikeluarkan oleh MUI. “Sertifikasi halal ini memiliki manfaat yaitu menjamin hak perlindungan terhadap konsumen muslim, pemenuhan standar pemerintah serta peningkatan nilai produk. Syarat produk dinyatakan halal jika memenuhi Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH). SJPH ini memuat beberapa kriteria seperti komitmen dan tanggung jawab, bahan, proses produk halal, lokasi/tempat, peralatan dan perangkat, pemantauan dan evaluasi”, kata Dr. Ratika. Proses pengajuan sertifikasi halal dilakukan secara online melalui situs ptsp.halal.go.id.

Melalui program pengmas ini, FFUI berharap warga Desa Sasakpanjang dapat mandiri secara ekonomi, menjadi Desa yang maju dan juga sebagai teladan dan memberikan kebermanfaatan yang besar untuk lingkungan sekitar. Sejauh ini, warga desa telah menghasilkan banyak sekali produk hasil pangan mereka, seperti sayur-sayuran, ikan air tawar, dan budidaya tanaman herbal. Kemauan untuk maju dari para warga desa ternyata membuahkan hasil yang sepadan dengan usaha mereka, berdasarkan hasil wawancara dengan para warga, mereka mengungkapkan bahwa untuk masing masing warga yang merupakan pengelola mendapatkan keuntungan yang beragam, mulai dari 500 ribu hingga 4 juta rupiah per bulan.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Prof. Dr. apt. Arry Yanuar, M.Si selaku Dekan FFUI; Prof. Dr. apt. Fadlina Chany Saputri, M.Si selaku Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pendidikan, dan Kemahasiswaan FFUI; dan tim pengmas yang terdiri dari dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa FFUI. Dalam sambutannya, Prof Arry menyampaikan “Semangat warga desa yang tinggi patut diapresiasi, bahkan desa sasakpanjang sudah memiliki unit usaha desa yang mana akan lebih fleksibel dan berkembang lagi dalam mengelola usahanya. Dari usaha ini kami berharap dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama warga desa sendiri. UI berkomitmen penuh untuk membina Desa Sasakpanjang hingga menjadi desa yang maju. UI juga memiliki UI Halal Center yang mungkin kedepannya dapat mengedukasi para masyarakat betapa pentingnya suatu produk pangan memiliki sertifikasi halal, terutama untuk konsumen muslim”.