Skip to main content

Fakultas Farmasi

8th ICAPPS 2026 Berkerja Sama dengan 2nd APDSC Perkuat Kolaborasi Global untuk Masa Depan Terapi

Gambar 1. Pimpinan FFUI, APDSC, Para Pembicara, dan Seluruh Peserta 8th ICAPPS 2026.

Depok, 29 Agustus 2026 — Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FFUI) menyelenggarakan The 8th International Conference on Advance Pharmacy and Pharmaceutical Sciences (ICAPPS) 2026 in conjunction with the 2nd Asia Pacific Delivery Science Conference (APDSC) pada 26–28 Agustus 2026 di Artotel Gelora Senayan, Jakarta.

Gambar 2. Pemukulan Gong, Seremonial Pembukaan Acara 8th ICAPPS 2026.

Mengusung tema “Precision, Prediction, Practice: Engineering the Future of Therapeutic Outcomes”, konferensi ini mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, mahasiswa, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara untuk membahas perkembangan ilmu farmasi, teknologi penghantaran obat, inovasi terapi, serta pemanfaatan teknologi dalam regulasi kesehatan. ICAPPS 2026 menghadirkan 33 pembicara dari 9 negara dan 110 peserta dari 10 negara.

Gambar 3. Prof. apt. Silvia Surini, M.Pharm.Sc., Ph.D. (Dekan FFUI).

Dalam sambutannya, Dekan FFUI, Prof. apt. Silvia Surini, M.Pharm.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa ICAPPS telah berkembang menjadi salah satu program akademik internasional unggulan FFUI yang menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan pembangunan jejaring kolaborasi lintas negara.

“ICAPPS bukan hanya menjadi forum untuk mempresentasikan penelitian, tetapi juga ruang untuk mempertemukan gagasan, keahlian, dan peluang kolaborasi.”

Prof. Silvia menilai tema Precision, Prediction, Practice relevan dengan perkembangan ilmu farmasi yang semakin dipengaruhi oleh kemajuan bioteknologi, kecerdasan buatan, pendekatan berbasis data, kesehatan digital, dan regulatory science. Pengembangan terapi perlu diarahkan agar semakin presisi, mampu memprediksi respons terapi dengan lebih baik, dan dapat diterapkan dalam praktik untuk menghasilkan luaran kesehatan yang lebih baik bagi pasien.

Gambar 4. Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU. (Rektor UI).

Rektor Universitas Indonesia, Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU, turut mengapresiasi penyelenggaraan ICAPPS yang telah memasuki edisi kedelapan. Menurutnya, konferensi internasional menjadi salah satu ruang bagi UI untuk memperkuat hubungan akademik dengan komunitas global.

“Kami mengukur kualitas universitas bukan hanya dari kualitas penelitian yang dihasilkan, tetapi juga dari seberapa baik fakultas-fakultas kami terhubung dengan dunia.”

Prof. Heri juga menilai tema konferensi sejalan dengan arah pengembangan riset yang semakin presisi dan prediktif, sekaligus mampu diterapkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Saya bangga Fakultas Farmasi menjalankan tanggung jawab ini dengan sungguh-sungguh dan menantikan ke mana kolaborasi yang terbentuk di ruangan ini akan membawa kita.”

Gambar 5. Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D. (Kepala BPOM).

Salah satu agenda utama konferensi adalah keynote address oleh Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI. Dalam paparannya, Taruna membahas transformasi pengawasan obat melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), big data, dan teknologi digital.

Menurutnya, perkembangan obat dan terapi yang semakin cepat membutuhkan sistem regulasi yang adaptif dan mampu memanfaatkan data untuk menghasilkan informasi serta prediksi dalam mendukung pengambilan keputusan.

“Pengawasan obat ke depan harus semakin berbasis bukti ilmiah. Pemanfaatan kecerdasan buatan dan big data menjadi bagian penting untuk meningkatkan kemampuan regulator dalam mengambil keputusan yang tepat dan melindungi masyarakat.”

Transformasi digital juga mendorong perubahan pendekatan pengawasan dari reaktif menjadi prediktif dan berbasis risiko. Pemodelan komputasi, simulasi berbasis fisiologi, digital twin, dan pasien virtual dapat dimanfaatkan untuk membantu memprediksi respons pasien terhadap terapi secara lebih presisi.

“Data harus dapat diolah menjadi pengetahuan dan prediksi yang membantu kita memahami bagaimana suatu terapi akan memberikan respons pada individu atau kelompok pasien tertentu.”

Prof. Taruna menekankan bahwa perkembangan tersebut membutuhkan dukungan infrastruktur, kualitas data, kapasitas komputasi, serta sumber daya manusia multidisiplin. Kolaborasi antara akademisi, dunia usaha, dan pemerintah menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem regulasi masa depan.

Penyelenggaraan 8th ICAPPS bersama 2nd APDSC turut memperluas pembahasan pada bidang pharmaceutical delivery science. Kolaborasi ini mempertemukan jejaring akademik dan profesional dari kawasan Asia-Pasifik untuk bertukar pengetahuan dan membuka peluang kerja sama.

Gambar 6. Dr. Goh Choon Fu (Co-Chair APDSC).

Dr. Goh Choon Fu, Co-Chair APDSC, mengapresiasi kolaborasi antara ICAPPS dan APDSC yang mempertemukan peneliti, akademisi, dan praktisi dari berbagai negara.

“Kolaborasi antara ICAPPS dan APDSC menjadi pengalaman yang sangat positif. Konferensi ini mempertemukan para peneliti, akademisi, dan praktisi dari berbagai negara dalam suasana yang terbuka dan kolaboratif.”

Ia berharap interaksi yang terbangun selama konferensi dapat berkembang menjadi kerja sama yang lebih luas dalam pengembangan drug delivery science dan ilmu farmasi di kawasan Asia-Pasifik.

“Kami berharap pertemuan ini dapat membuka lebih banyak peluang kerja sama dan membawa kolaborasi yang terjalin di konferensi ini ke tahap berikutnya.”

Gambar 7. Prof. Dr. apt. Arry Yanuar, M.Si. (Ketua 8th ICAPPS 2026).

Sementara itu, Ketua 8th ICAPPS 2026, Prof. Dr. apt. Arry Yanuar, M.Si., turut menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya konferensi yang mempertemukan berbagai elemen dari komunitas farmasi dan ilmu kesehatan. Kehadiran para pembicara dan peserta dari berbagai negara menjadi bagian penting dalam menciptakan ruang pertukaran pengetahuan serta membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.

“ICAPPS merupakan ruang untuk mempertemukan peneliti, akademisi, praktisi, dan mahasiswa dalam berbagi pengetahuan serta membangun kolaborasi. Kami berharap pertemuan ini tidak berhenti pada konferensi, tetapi dapat menghasilkan kerja sama dan gagasan yang terus berkembang setelah kegiatan ini selesai.”

Rangkaian kegiatan meliputi pre-conference workshop, plenary session, parallel session, oral presentation, poster presentation, invited speaker session, dan coaching clinic. Melalui berbagai sesi tersebut, peserta memperoleh kesempatan untuk bertukar pengetahuan, mempresentasikan hasil penelitian, serta membangun jejaring dengan komunitas ilmiah dari berbagai negara.

Gambar 7. Beragam Poster Ilmiah di ICAPPS 2026.

Penyelenggaraan 8th ICAPPS 2026 bersama 2nd APDSC mempertemukan beragam perspektif mengenai masa depan pengembangan terapi mulai dari riset dan teknologi penghantaran obat hingga regulasi dan penerapannya. Pertemuan ini sekaligus membuka ruang bagi terbentuknya jejaring dan kolaborasi baru untuk mendorong perkembangan ilmu farmasi dan menghasilkan inovasi yang semakin relevan bagi kebutuhan pasien dan masyarakat.

Scroll to Top