Depok, 14 September 2026 — Mata Kuliah Manajemen Risiko dan Keamanan Farmasi pada Program Pascasarjana Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FFUI) menghadirkan apt. Dwi Damayanti, S.Si., M.Farm., Kepala Balai Pengujian Produk Biologi BPOM RI, sebagai narasumber dalam kuliah tamu bertema “Tahapan Penyusunan Identifikasi Risiko” pada Sabtu, 12 September 2026. Kuliah tamu ini membahas penerapan manajemen risiko mutu dan keselamatan produk farmasi, mulai dari proses identifikasi hingga pemantauan risiko.

Gambar 1. Pemaparan materi oleh apt. Dwi Damayanti, S.Si., M.Farm., Kepala Balai Pengujian Produk Biologi BPOM RI.
Dalam pemaparannya, Dwi Damayanti menjelaskan pentingnya penerapan manajemen risiko sebagai bagian dari proses bisnis di bidang farmasi. Penerapan tersebut perlu didukung oleh komitmen organisasi secara menyeluruh dan mengacu pada sejumlah pedoman internasional yang menjadi landasan dalam pengelolaan risiko.
“Manajemen risiko perlu diintegrasikan ke dalam proses bisnis farmasi dengan dukungan dan komitmen organisasi secara menyeluruh. Penerapannya mengacu pada sejumlah pedoman internasional, yaitu ISO 31000, ICH Q9, dan WHO TRS 98,” jelas apt. Dwi Damayanti, S.Si., M.Farm.
Kuliah tamu kemudian membahas lima tahapan utama manajemen risiko, yaitu inisiasi, penilaian risiko (risk assessment), pengendalian risiko, komunikasi risiko, serta peninjauan dan pemantauan risiko. Pada tahap inisiasi, organisasi perlu menentukan ruang lingkup, pemangku kepentingan, indikator, serta mengidentifikasi berbagai isu internal dan eksternal yang dapat memengaruhi proses.

Gambar 2. Pemaparan materi tentang proses manajemen risiko di bidang farmasi.
Tahap penilaian risiko menjadi bagian penting dalam proses tersebut dan terdiri atas tiga proses, yaitu identifikasi risiko, analisis risiko, dan evaluasi risiko. Identifikasi dilakukan untuk menemukan potensi masalah beserta sumbernya. Selanjutnya, analisis risiko dapat dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif maupun kuantitatif dengan mempertimbangkan faktor severity atau keparahan, occurrence atau kejadian, dan detection atau deteksi. Hasilnya dapat digunakan dalam kalkulasi Risk Priority Number (RPN) untuk membantu menentukan prioritas tindakan.
Setelah risiko diidentifikasi dan dinilai, tahap berikutnya adalah pengendalian risiko melalui penerapan langkah-langkah mitigasi untuk menurunkan tingkat risiko. Proses tersebut kemudian dilengkapi dengan komunikasi risiko kepada pihak-pihak terkait serta peninjauan dan pemantauan secara berkala untuk mengevaluasi efektivitas pengendalian yang telah diterapkan.
Dalam proses identifikasi dan analisis, mahasiswa juga diperkenalkan dengan sejumlah metode Root Cause Analysis atau analisis akar masalah, antara lain diagram Fishbone, Five Whys (5 Whys), dan 5W1H. Penggunaan berbagai alat tersebut membantu menelusuri sumber permasalahan sebagai bagian dari proses penyusunan tindakan pengendalian dan mitigasi risiko.
Materi yang disampaikan kemudian diterapkan melalui tugas kelompok. Sebanyak 12 mahasiswa dibagi menjadi empat kelompok dan masing-masing kelompok diminta mengidentifikasi sedikitnya tiga risiko berdasarkan lingkup yang dipilih, yaitu apotek/farmasi, rumah sakit, laboratorium, atau badan pengatur. Identifikasi dilakukan menggunakan matriks risiko dan hasilnya akan dipresentasikan pada pertemuan berikutnya.
Melalui kuliah tamu pada Mata Kuliah Manajemen Risiko dan Keamanan Farmasi, mahasiswa memperoleh pemahaman mengenai pentingnya pengelolaan risiko secara sistematis dalam mendukung mutu dan keamanan produk farmasi. Pembelajaran tidak hanya membahas konsep dan tahapan manajemen risiko, tetapi juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkannya melalui identifikasi risiko pada berbagai lingkup kefarmasian.