Depok, 30 November 2025 — Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FFUI) menyelenggarakan kegiatan Guest Lecture bertajuk “Penanganan Hasil Uji Mutu Sediaan Farmasi” pada Sabtu, 29 November 2025, yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menghadirkan narasumber apt. Mimi Virlany Syahputri dari PT. Anugrah Amartha Global, yang memiliki pengalaman luas dalam pengendalian mutu dan kepatuhan regulatori industri farmasi. Kelas tamu ini merupakan bagian dari komitmen FFUI dalam memperkuat kompetensi akademik dan pemahaman praktis mahasiswa mengenai sistem kualitas, audit pemasok, dan pengelolaan penyimpangan dalam proses produksi farmasi.
Sesi dimulai dengan diskusi pembuka yang menyinggung dinamika teknis dalam penyelenggaraan pertemuan daring dan berbagi pengalaman ringan terkait kondisi pariwisata sebagai pembuka suasana. Acara kemudian beralih pada pemaparan utama mengenai sistem evaluasi kualitas di industri farmasi. Dalam sesi tersebut, apt. Mimi Virlany Syahputri memberikan wawasan komprehensif tentang proses manufaktur farmasi, termasuk kontrol kualitas proses produksi, manajemen material, penilaian pemasok, serta sistem pengendalian perubahan (change control). Diskusi juga menyoroti urgensi kepatuhan regulatori, pengelolaan vendor, standar dokumentasi, dan praktik audit mutu yang sangat menentukan kelayakan dan keamanan produk farmasi sebelum didistribusikan kepada masyarakat.
Dalam topik Evaluasi Kualitas Farmasi, apt. Mimi menjelaskan pentingnya penyelarasan hasil inspeksi dengan standar sistem manajemen mutu dan menekankan bahwa konsistensi standar hanya dapat dicapai melalui penerapan prosedur baku yang sistematis. Ia memaparkan konsep N-to-N process serta menegaskan bahwa interpretasi praktis dari regulasi Good Manufacturing Practice (GMP) adalah kunci dalam memahami keseimbangan antara kepentingan bisnis dan kewajiban kesehatan publik. Narasumber juga menyoroti pentingnya memastikan keterhubungan antara sistem pengujian dan proses produksi serta kebutuhan akan sistem manajemen perubahan yang efektif guna mendorong perbaikan berkelanjutan di industri.
Pengendalian dan kategorisasi bahan baku farmasi juga menjadi bagian penting dalam pemaparan. Apt. Mimi menjelaskan peran sistem kontrol bahan, mulai dari seleksi pemasok, proses verifikasi material, hingga penggunaan teknologi seperti FPIAR dan Raman spectroscopy untuk keperluan identifikasi dan pemeriksaan bahan secara cepat dan akurat. Ia menuturkan bahwa penipuan material dan ketidakpatuhan pemasok merupakan tantangan nyata dalam industri dan menggarisbawahi pentingnya penguatan sistem penjaminan mutu dan pelatihan personil.
Pada sesi berikutnya mengenai penilaian pemasok dan kontrol kualitas vendor, apt. Mimi memaparkan langkah-langkah proses investigasi penyimpangan (deviation), evaluasi dampak, dan penerapan tindakan korektif dan pencegahan (CAPA) sebelum batch dirilis. Ia mendorong terciptanya budaya pelaporan yang terbuka dan integratif dalam industri serta perlunya dokumentasi yang ringkas tetapi akuntabel untuk mendukung keputusan mutu yang tepat waktu. Contoh kasus dan strategi praktis juga dijelaskan melalui sesi interaktif tanya jawab dengan peserta.
Materi dilanjutkan dengan penjelasan mendalam mengenai sistem kontrol perubahan pabrik, termasuk bagaimana perubahan teknologi, metode pemurnian, maupun pembaruan peralatan harus melalui proses validasi ketat untuk menjamin mutu produk tetap terjaga. Narasumber menekankan bahwa perbaikan berkelanjutan tidak dapat dilakukan secara sembarangan, namun wajib mengikuti proses evaluasi risiko dan kontrol dokumentasi yang sistematis.
Sesi ditutup dengan pembahasan tentang tindakan korektif dan pencegahan (Corrective and Preventive Action / CAPA). Apt. Mimi menguraikan perbedaan karakteristik dan tujuan kedua pendekatan tersebut serta menekankan pentingnya root cause analysis dan evaluasi efektivitas sebagai komponen penting untuk mencegah terulangnya masalah kualitas. Diskusi interaktif melibatkan berbagai pertanyaan teknis dari peserta, termasuk pertanyaan mengenai efektivitas pengendalian perubahan (Annisa Dezura), fleksibilitas penggunaan sertifikat COC dan COBU dalam penilaian material (Linda), serta penanganan situasi saat dokumen validasi pemasok tidak tersedia (Jihan Fadhilah). Mengakhiri sesi, apt. Mimi menyampaikan bahwa tantangan dalam industri farmasi terus berkembang, sehingga adaptasi, pelatihan, dan penguatan sistem akan selalu menjadi kebutuhan strategis.
Kegiatan Guest Lecture berlangsung dengan antusiasme tinggi dari peserta dan memberikan wawasan aplikatif mengenai bagaimana industri farmasi menangani hasil uji mutu dan menjaga kepatuhan terhadap standar internasional. Melalui penyelenggaraan kelas tamu ini, FFUI menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pembelajaran akademik berbasis praktik industri dan mempersiapkan lulusan yang siap bersaing di dunia profesional farmasi dan kesehatan.