
Gambar 1. Foto bersama dengan para warga di Desa Wisata Hanjeli, Sukabumi.
Depok, 30 Agustus 2026 — Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FFUI) melalui program pengabdian kepada masyarakat mengembangkan biji hanjeli menjadi minuman berasa kopi alami yang bernutrisi, bebas kafein, dan gluten. Kegiatan ini dilaksanakan pada 29 Agustus 2026 sebagai bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal sekaligus mendorong pengembangan potensi ekonomi masyarakat di Kabupaten Sukabumi.
Program yang dikembangkan dengan pendekatan living lab ini berangkat dari masih rendahnya nilai tambah komoditas hanjeli di tingkat masyarakat. Melalui kolaborasi antara tim FFUI, petani, UMKM, dan masyarakat lokal, biji hanjeli dikembangkan menjadi produk pangan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi serta berpotensi menjadi produk unggulan daerah.
Ketua Tim Periset sekaligus Pengusul, Prof. Dr. apt. Berna Elya, M.Si., menjelaskan bahwa pengembangan produk ini merupakan upaya membawa hasil penelitian dari laboratorium agar dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat.
“Hanjeli adalah tanaman lokal yang punya potensi sangat besar untuk diolah menjadi pangan sehat. Melalui riset ini, kami ingin membawa hasil penelitian laboratorium langsung ke masyarakat dengan mengolah biji hanjeli menjadi minuman berasa kopi yang alami, bergizi, serta aman bagi mereka yang tidak bisa mengonsumsi kafein atau gluten.”

Gambar 2. Praktik mengolah biji hanjeli menjadi minuman rasa kopi.
Rangkaian kegiatan dilakukan secara bertahap dan iteratif, mulai dari karakterisasi biji hanjeli, eksperimen roasting dan grinding, formulasi prototipe, hingga pengujian mutu untuk memastikan produk bebas gluten dan kafein. Pengembangan produk kemudian dilanjutkan dengan pelatihan pascapanen bagi petani dan UMKM serta uji pasar di Desa Wisata Hanjeli.
Tidak hanya berfokus pada pengembangan produk, program ini juga mencakup penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) agar proses produksi dapat dilakukan secara lebih terstandar. Tim FFUI turut memberikan pendampingan terkait model bisnis dan branding untuk mempersiapkan produk agar dapat dipasarkan sebagai produk siap edar.
Prof. Berna menekankan bahwa keberlanjutan inovasi tidak hanya ditentukan oleh produk yang dihasilkan, tetapi juga kemampuan masyarakat untuk mengembangkan dan memproduksinya secara mandiri.
“Kami tidak hanya meracik produknya, tetapi juga melatih petani dan UMKM agar bisa mengolahnya sendiri dengan teknologi yang mudah dipelajari. Harapannya, inovasi ini bisa meningkatkan pendapatan warga sekaligus menjadikan kopi hanjeli sebagai produk oleh-oleh kebanggaan Sukabumi.”
Dukungan terhadap pengembangan hanjeli juga datang dari masyarakat setempat. Asep Hidayat Mustopa (Abah Asep), Ketua Desa Wisata Hanjeli sekaligus Founder Hanjeli, menyampaikan bahwa hanjeli memiliki nilai lebih dari sekadar komoditas pangan karena telah menjadi bagian dari identitas dan kearifan lokal masyarakat.
“Desa Wisata Hanjeli merupakan destinasi berbasis kearifan lokal yang mengangkat Hanjeli (Coix lacryma-jobi) sebagai ikon utama. Hanjeli adalah pangan lokal warisan leluhur Nusantara yang kaya nutrisi dan nilai historis.”

Gambar 3. Tanaman hanjeli di Desa Wisata Hanjeli.
Menurut Abah Asep, inovasi yang dikembangkan bersama FFUI membuka peluang bagi hanjeli untuk memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi sekaligus memperkaya pengalaman wisata di Desa Wisata Hanjeli.
“Melalui program Bestari Saintek, hanjeli berasa kopi yang biasa dijual sebagai bahan mentah dengan nilai yang minim, tetapi lewat pendampingan dan teknologi dari tim FFUI, hanjeli bisa naik kelas jadi produk yang lebih berdaya saing tinggi. Ini bukan sekadar produk baru, tapi juga atraksi eduwisata baru yang akan mendatangkan lebih banyak pengunjung dan meningkatkan pendapatan masyarakat lokal.”
Program ini melibatkan sivitas akademika FFUI yang terdiri atas Prof. Dr. apt. Berna Elya, M.Si. selaku Ketua Tim Periset/Pengusul; apt. Roshamur Cahyan Forestrania, M.Sc., Ph.D. dan Suci Aisyah Kurnia, S.Si. sebagai Anggota Tim Periset; Ratri Syafira Putri, S.Psi. sebagai Anggota Tim Periset; serta mahasiswa Gandha Sila Honorius, S.Farm., apt. Anhar Muflih, S.Farm., dan apt. Arifah Putri Yanti, S.Farm., M.Farm.
Melalui rangkaian riset, pelatihan, pengujian, hingga pendampingan produksi dan pemasaran, pengembangan biji hanjeli diarahkan tidak berhenti pada penciptaan produk baru. Inovasi ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem produksi, inovasi, dan pemasaran berbasis kolaborasi lokal, sekaligus mempertemukan potensi riset perguruan tinggi dengan kebutuhan dan potensi ekonomi masyarakat.
Dengan demikian, hanjeli tidak hanya dipandang sebagai bahan pangan lokal, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah dan bagian dari pengalaman eduwisata Desa Wisata Hanjeli.