Arah dan Perkembangan Eksipien untuk Menunjang Bahan Baku Industri

Search
Close this search box.

Arah dan Perkembangan Eksipien untuk Menunjang Bahan Baku Industri

Arah dan perkembangan Eksipien untuk menunjang bahan baku industri sejalan dengan perkembangan IPTEK untuk menghasilkan sediaan Farmasi yang aman dan stabil. Perkembangan Eksipien sangatlah dinamis karena dari waktu ke waktu muncul sediaan-sediaan Farmasi yang baru, baik dari penampilan fisik, sistem lepas obat dari sediaannya dan dari segi rute pemberiaannya. Pengertian Eksipien itu sendiri menurut Prof. Effionora Anwar, MS., Apt. (Guru Besar FF UI) pada pemaparan nya di Kuliah Umum Guru Besar FF UI 8 Oktober 2018 lalu yaitu bahan tambahan/ pendukung dalam formula sediaan Farmasi, yang memiliki sifat inert dan tidak mempunyai  aktivitas Farmakologi. Beliau menyebutkan, dilihat dari penampilan fisiknya perkembangan sediaan obat dibagi dalam 3 kelompok yaitu sediaan padat, setengah padat dan cair. Sedangkan dari segi cara penggunaannya dibagi dalam 3 kelompok yaitu sediaan oral, topical dan sediaan parenteral. Setiap jenis kelompok sediaan tersebut memerlukan Eksipien yang spesifik dalam proses pembuatannya sesuai dengan bentuk  sediaan yang dibuat.

Prof. Effi menambahkan, perkembangan Eksipien sediaan obat dalam negeri perlu diupayakan karena fungsinya yang sangat penting dalam berbagai jenis sediaan obat.  Salah satu upaya dalam perkembangan eksipien sediaan obat dalam negeri ialah melalui pemanfaatan sumber daya hayati Indonesia. Kekayaan sumber daya hayati Indonesia merupakan potensi yang luar biasa bila dikembangkan untuk dibuat menjadi  eksipien  bidang Farmasi. Sayangnya sampai detik ini belum ada perkembang yang mengembirakan terlihat dari ketersediaan Eksipien dilapangan sebagian besar masih berasal dari luar (impor). Keragaman hayati tanaman, mikro organisme dan biota laut berkolerasi langsung dengan keragaman kimia yang memiliki potensi yang sangat besar sebagai Eksipien sediaan Farmasi. Sekarang tergantung pada komitmen pemerintah apakah terpikirkan untuk memproduksi eksipien di dalam negeri atau lebih nyaman mengimpor, dengan risiko bila suatu saat tidak mendapatkan pasokan dari negara asing, atau tingginya biaya impor sehingga Indonesia tidak bisa mengimpor eksipien lagi dari luar negeri. Karena hal tersebut akan mengakibatkan lumpuhnya industri Farmasi untuk menghasilkan produk Farmasi, atau melambung tingginya harga obat bila dipaksakan kondisi tersebut di atas.

Upaya yang perlu dilakukan oleh perguruan tinggi yaitu meningkatkan peran perguruan tinggi dalam mengembangkan riset bahan baku penolong (eksipien) yang berbasis pada bahan baku alami yang banyak terdapat di Indonesia, sehingga kelak dapat diaplikasi dalam produksi skala pabrik untuk membantu industri Farmasi mendapatkan Eksipien dengan mudah dan harga terjangkau. Dengan demikian kemandirian obat di Indonesia yang di cita2kan bisa terwujud…