Guest Lecture FFUI Bahas Pentingnya Peran Apoteker pada Metode Critical Care

Search
Close this search box.

Guest Lecture FFUI Bahas Pentingnya Peran Apoteker pada Metode Critical Care

Senin (29/05/2023), Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FFUI) mengadakan Kuliah Tamu dengan topik “Clinical Pharmacist: A Focus in Critical Care”. Acara ini diisi oleh Juliane C. Maette, PharmD, BCPS selaku Clinical Pharmacist Carondelet St Joseph’s Hospital (USA) dan  apt. Kartika Citra Dewi Permata Sari, M.Farm. selaku moderator acara.

Acara dimulai pada pukul 13.00 WIB dan dibuka oleh moderator sebelum sesi pemaparan materi oleh Juliane C. Maette, PharmD, BCPS dimulai. Dalam pemaparannya, Juliane menjelaskan bahwa Critical Care merupakan spesialisasi perawatan kesehatan multiprofesional yang peduli terhadap pasien dengan penyakit atau cedera akut yang mengancam jiwa. Dalam hal ini, Critical Care berfokus pada meningkatkan perawatan pasien yang kritis dengan mengumpulkan, mendiskusikan, mendistribusikan, dan mempromosikan informasi berbasis bukti sehingga memberikan gambaran menyeluruh tentang bidang perawatan intensif. Selain itu juga Juliane membahas tentang peran serta pengetahuan dasar apa saja yang harus dimiliki oleh seorang apoteker dalam Critical Care. “Salah satu peran besar apoteker di Critical Care adalah di Infectious Disease, disini apoteker menilai pengelolaan penggunaan antibiotik dengan memastikan penggunaan yang rasional dan sesuai dengan pedoman pengobatan.”, Ujar Juliane.

Infectious Disease adalah penyakit menular yang disebabkan oleh mikroorganisme yang masuk ke dalam tubuh, berkembang biak, dan menyebabkan infeksi. Penyakit menular dapat menyebar dari individu ke individu, baik melalui kontak langsung seperti sentuhan kulit, maupun melalui jalur tidak langsung seperti makanan atau air yang terkontaminasi. Dalam bidang farmasi, penyakit menular menjadi perhatian khusus karena setiap mikroorganisme memiliki karakteristik dan sensitivitas yang berbeda. Oleh karena itu, perancangan regimen pengobatan harus dilakukan dengan tepat. Dalam hal ini, dosis, frekuensi pemberian, dan durasi pengobatan harus disesuaikan agar mencapai konsentrasi obat yang efektif dalam tubuh dan dapat memberikan efek penghancuran atau pengendalian terhadap mikroorganisme penyebab penyakit sehingga mencegah terjadinya resistensi, yaitu keadaan ketika mikroorganisme menjadi kebal atau tahan terhadap efek obat yang biasanya digunakan untuk mengobati infeksi tersebut.

Setelah sesi pemaparan materi, dilakukan sesi diskusi dengan audiens mengenai kasus klinis yang kemudian diikuti dengan sesi tanya jawab. Pada akhir acara, dilakukan penyerahan sertifikat apresiasi secara simbolis kepada pembicara yang diwakili oleh Prof. Dr. apt. Arry Yanuar, M.Si., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Indonesia.